4 August 2016

Karena Salah Paham : Ayah Kandung Tega Menghabisi Nyawa Anaknya Yang Baru Duduk Di Bangku TK

Sosial, Anak Tewas, Ayah, Kandung, Siksa, Anak
Ilustrasi Foto Dimbil Dari : www.psifire.com

Di sebuah desa yang sangat kecil dan damai hiduplah serang anak yang bernama Imam, Imam adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara, Imam adalah anak laki-laki terbesar diantara saudaranya, walaupun imam anak ke-2, dia adalah anak yang sangat mandiri. sejak kecil Imam di kenal sebagai anak yang periang dan mandiri, ia tidak pernah mengeluh dengan segala kesulitan yang di hadapi sejak kecil, suatu ketika Imam yang masih bersekolah di sebuah Taman Kanak-Kanak di daerah dekat tinggalnya, berangkat pergi kesekolah, seperti biasa, Imam yang masih sangat kecil berangkat kesekolah sendirian, pergi kesekolah dengan berjalan kaki sendirian selalu di lakukan Imam sejak awal dia masuk sekolah.

Pagi itu Imam datang kesekolah terlalu pagi, sehingga saat tiba di sekolah Imam tidak melihat satu orangpun teman yang datang, bahkan Imam juga tidak dapat menemukan satu orang pun guru di sekolah TK nya itu, akhirnya tanpa banyak berfikir panjang, setelah menunggu terlalu lama, ia pun memutuskan untuk pulang kerumah, setibanya di rumah, Ayah dan Ibu Imam bertanya kepadanya, “kok pulang lagi” tanya Ibu Imam kepada Imam, dengan polos dan lugunya sebagai anak, Imam langsung menjawab pertanyaan Ibunda, dengan lugu dan polos Imam mengatakan ” Libur Bu, di sekolah tidak ada yang datang”, dengan suara agak kelelahan karena Imam baru tiba di rumah dengan berjalan kaki dari sekolahnya yang cukup jauh.

Tak lama berselang, Ayah Iamam datang menghampiri, lalu karena mendengar pengakuan Imam yang mengatakan sekolahnya libur, lalu ayah bermaksud mengajak imam untuk pergi ke peternakan ayam potong miliknya, lalu ayah berkata kepada Imam ”Kalo sekolah libur, ayo !! ikut Ayah saja ... kita beri makan ayam di kandang”. Imam begitu gembira karena akan di ajak jalan-jalan oleh ayahnya dan kebetulan sekolah juga hari itu libur, lalu Imam langsung bergegas mengikuti langkah ayahnya yang telah berjalan lebih dulu untuk pergi ke kandang ayam potong peliharaannya.

Kemudian mereka sampai di peternakan ayam milik Ayah Imam, lalu Ayah Imam mulai memberi makan dan juga minuman untuk ayam ternak miliknya itu, setelah beberapa waktu berselang, tugas Ayah untuk memberi makan dan minumpun ayam peliharaan selesai, lalu Ayah mengajak Imam untuk kembali ke rumah.

Saat di tengah perjalanan menuju rumah, Imam dan ayahnya bertemu dengan kepala sekolah TK tempat Imam bersekolah, lalu ibu kepala sekolah berkata kepada Imam, “lho.. Imam ??? tadi mengapa tidak sekolah ?”... 

mendengar pertanyaan ibu kepala sekolah yang bertanya seperti itu, sontak membuat Ayah Imam langsung naik pitam, dan langsung berkata kepada ibu kepala sekolah TK, “Loh..??? bu !!! kata Imam tadi libur, makanya dia tidak sekolah, memang tidak libur yah ???”, dengan nada agak kecewa karena Ayah merasa di bohongi oleh anaknya yang masih kecil ini.

Lalu ibu kepala sekolah TK berkata, sambil tersenyum, “Tidak pak !!!, kita tidak libur hari ini, kita semua masuk seperti biasa kok,.. hari ini... !!!”. 

Lalu Ayah Imam dengan muka merah dan penuh kemarahan berkata kepada ibu kepala sekolah sambil memegang tangan imam dengan kencang, bermaksud ingin langsung mengajak Imam pulang kerumah, “Baik bu..!!!, terimaksih informasinya, saya permisi dulu”. dengan jengkel setelah ibu kepa sekolah pergi, Imam kecil langsung di seret ayahnya pulang kerumah, Imam berkata pada ayahnya, “Ayah sakit !!! Ayah sakit..” teriakan kecil Imam tidak di hiraukan oleh Ayahnya, malahah Ayah menambahkan pukulan sambil menyeret Imam yang masih kecil itu, dengan penuh amarah, karena merasa di bohongi oleh anakknya yang masih kecil.

Sepanjang perjalanan pulang Imam menagis menahan sakit karena siksaan Ayah kandungnya sendiri, sesekali dia merintih, bahkan kadang Imam menangis untuk mendapatkan belas kasihan dan ampunan dari Ayahnya karena kesalahan yang tidak di mengertinya, dalam hatinya mungkin Imam bertanya, apa kesalahannya, tetapi Ayah Imam seakan rasa kasihnya pada anak telah tertutup dengan hawa nafsu setan yang telah membisikannya untuk terus menyeret dan menghantam Imam anak kandungnya sendiri tanpa peduli lagi dengan rasa sakit yang di keluhkan oleh anaknya yang mengangis dan merintih.

Karena tidak kuat menahan rasa sakit siksaan yang di lakukan oleh ayah kandung selama perjalanan menuju rumah, Imam pun akhirnya meninggal, saat meninggal pun Ayah Imam masih saja terus memukuli jasat anaknya dengan penuh kekesalan sambil menghujat anaknya itu, bertubi-tubi pukulan dengan menggunakan benda-benda keras yang di temukan di sepanjang perjalan menuju rumah diberikan oleh Ayah kepada Imam anaknya yang mungil itu.

Ketika suara tangis tidak terdengar lagi, dan tubuh kecil yang di seret itu tidak lagi bergerak, Ayah Imam baru menyadari, jika anaknya tidak lagi bergerak, lalu Ayah Iamam pun berhenti memukuli dan berhenti untuk menyeret, di pandanginya anaknya itu, lalu di lihat lebih dekat lagi, dan dia baru menyadari bahwa Imam anak kecillnya yang sangat lugu dan lucu telah menderita karena siksaan bertubi yang di lakukan oleh dirinya sendiri tanpa ampun, Ayah Imam mulai panik melihat anaknya yang tidak lagi bergerak, dia peluk anaknya sambil memanggil dengan suara keras, “Imam... Imam... bangun nak..!!!”

berkali-kali Ayah lakukan itu, tetapi Imam tetap tidak bangun dan tidak bergerak, Ayah menangis menyesali perbuatan jahatnya pada anak tercintanya, dia baru sadar, Imam harus meregang nyawa karena pukulan bertubi-tubi yang di lakukan oleh tangannya sendiri.

Karena keluguan dan salah pemahaman terhadap apa yang di lihatnya di sekolah tadi pagi, akhirnya Imam kecil harus menerima hukuman bertubi dari Ayah kandungnya sendiri hingga Imampun akhirnya harus kembali kepangkuat pemilikNya di tempat yang abadi.

Sambil menyesali yang tak lagi berguna, Ayak kandung Imam akhirnya menyesali semua perbuatan dirinya yang tak lagi mampu mengembalikan Imam untuk hidup kembali.

Hanya penyesalan dan tangis yang dapat di lakukan karena nafsu telah menutupi rasa kasih dan sayang pada anak kandungnya sendiri.

0 komentar:

Post a comment